Sabtu, 01 Desember 2012

Pendorong Wirausaha (1)


Bahan 11
Faktor Pendorong Wirausaha (1)

  1. Dorongan Merintis Wirausaha
a.      Aspek utama
Di Amerika ada budaya keinginan seseorang untuk menjadi bos sendiri, memiliki peluang individual, menjadi sukses dan menghimpun kekayaan, ini semua merupakan aspek yang utama dalam mendorong berdirinya kegiatan kewirausahaan. Di negara lain mungkin motivasi mendirikan bisnis bukan mencari uang yang utama akan tetapi ada motif-motif lain dibalik itu. Ada pula motivasi menjadi wirausaha didorong oleh lingkungan yang banyak dijumpai berbagai macam perusahaan seperti di daerah Silicon Valley (California). Lingkungan seperti ini sangat mendorong pembentukan kewirausahaan.
Di lingkungan Silicon Valley dijumpai ratusan perusahaan kebanyakan bergerak dalam bidang komputer dan elektronik yang selalu menghasilkan produk-produk baru. Mereka bersaing secara rutin, dan kondisi mereka selalu stabil, mereka tidak terorganisasi dalam alam birokrasi. Situasi organisasi semacam ini oleh para ahli diistilahkan dengan ‘adhocracy‘ sebagai lawan dari birokrasi. Ada pekerjaan spesialis, sedikit ikatan komando, tidak ada struktur organisasi yang jelas. Pengambilan keputusan bersifat desentralisasi. Mereka memiliki budaya kerja tinggi, saling percaya, penuh keyakinan. Semua ini membuat pekerjaan sangat efektif.
An adhocracy is an organizationin which there are few specialized jobs and little required adherence to the chain of command. Organization charts are usually a set of common beliefs and sense of common purpose-a “culture.” This culture helps hold the employees together and helps ensure that the work of the firm is done effectively. (Schoell, 1993:235)
Dalam aspek lain keberanian membentuk kewirausahaan didorong oleh guru sekolah, sekolah yang memberikan mata pelajaran kewirausahaan yang praktis dan menarik dapat membangkitkan minat siswa untuk berwirausaha, seperti di negara maju. Dorongan membentuk wirausaha juga datang dari teman sepergaulan, lingkungan famili, sahabat dimana mereka dapat berdiskusi tentang ide wirausaha masalah yang dihadapi dan cara-cara mengatasi masalahnya. Pendidikan formal dan pengalaman bisnis kecil-kecilan yang dimiliki oleh seseorang dapat menjadi potensi utama untuk menjadi wirausaha yang berhasil. Oleh sebab itu dikatakan entrepreneur are not born-they develop. (Hisrich-Peters, 1995)
b.      Beberapa Faktor Kritis Untuk Memulai Usaha Baru
Ada beberapa faktor kritis yang berperan dalam membuka usaha baru yaitu:
1)    Personal, menyangkut aspek-aspek kepribadian seseorang.
2)    Sociological, menyangkut masalah hubungan dengan family dsb.
3)    Environmental, menyangkut hubungan dengan lingkungan (Bygrave, 1994:3)
Apabila seseorang mempunyai ide untuk membuka suatu usaha baru maka dia akan mencari faktor-faktor lain yang dapat mendorongnya. Dorongan-dorongan ini tergantung pada beberapa faktor antara lain faktor famili, teman, pengalaman, keadaan ekonomi, keadaan lapangan kerja dan sumberdaya yang tersedia.
Faktor Sosial yang berpengaruh terhadap minat memulai bisnis ini ialah masalah tanggung jawab terhadap keluarga. Orang yang berumur 25 tahun akan lebih mudah membuka bisnis dibandingkan dengan seseorang yang berumur 45 tahun, yang sudah punya isteri, beberapa anak, banyak beban, cicilan rumah, biaya rumah tangga dan sebagainya. Di samping ini ada lagi faktor sosial lainnya yang berpengaruh.
Faktor lain yang berpengaruh dalam membuka bisnis ialah pertimbangan antara pengalaman dengan spirit, energi dan rasa optimis. Biasanya orang–orang muda lebih optimis, energik, dibandingkan dengan orang-orang yang sudah berumur. Oleh sebab itu, pembukaan usaha sebaiknya dilakukan pada saat seseorang memiliki rasa optimis dan sudah dipertimbangkan secara matang.
  1. Latar Belakang Wirausaha
a.      Lingkungan Keluarga Semasa Kecil
Ini dapat dilihat dari anak nomor berapa, orang tua, pekerjaan, dan status sosial. Namun apabila memperhatikan anak nomor berapa terdapat hasil yang berbeda dari beberapa penelitian, misalnya para eksekutif wanita cenderung berasal dari anak nomor satu dari sekian bersaudara, mereka ini memperoleh perhatian istimewa sewaktu kecil, dan self confidence nya tinggi. Tapi ada pula penelitian yang tidak menemukan perbedaan signifikan terhadap para pengusaha wanita dan pria apakah dari kelahiran nomor satu atau bukan.
Lingkungan dalam bentuk “role models” juga berpengaruh terhadap minat berwirausaha. Role models ini biasanya melihat kepada orang tua, saudara, keluarga yang lain (kakek, paman, bibi, anak), teman-teman, pasangan, atau pengusaha yang sukses yang diidolakannya. Dorongan teman cukup berpengaruh terhadap semangat membuka suatu usaha, karena kita dapat berdiskusi lebih bebas, dibandingkan dengan orang lain, teman bisa memberi dorongan, pengertian, bahkan bantuan, tidak perlu takut terhadap kritikan. Lingkungan professional juga dapat diminta bantuan, seperti biro konsultan bisnis, mencakup keuangan, pemasaran, promosi dan sebagainya, asosiasi berbagai badan asosiasi bisnis, mentor, instruktur, dosen atau guru bisnis.
Terhadap pekerjaan orang tua, seringkali terlihat bahwa ada pengaruh dari orang tua yang bekerja sendiri, dan memiliki usaha sendiri cenderung anaknya jadi pengusaha pula. Keadaan ini seringkali memberi inspirasi pada anak sejak kecil. Situasi seperti ini akan lebih diperkuat lagi oleh ibu yang juga ikut berusaha. Orang tua ini cenderung mensupport serta mendorong keberanian anaknya untuk berdiri sendiri. Suasana dorongan ini sangat penting artinya bagi calon wanita pengusaha.
b.      Pendidikan
Banyak orang menyatakan bahwa tingkat pendidikan para wirausaha, agak rendah dibandingkan dengan rata-rata populasi masyarakat. Namun ini tidak begitu signifikan, karena tingkat pendidikan juga penting bagi wirausaha, terutama dalam menjaga kontinuitas usahanya dan mengatasi segala masalah yang dihadapi diperlukan tingkat pendidikan yang memadai. Pada saat memulai usaha, tingkat pendidikan tidak memegang peranan penting, malahan banyak diantara pengusaha adalah orang-orang drop out seperti Andrew Carnegie, William Durant, Henry Ford. Menurut Hisrich hampir 70% dari wanita pengusaha pernah mengenyam pendidikan diploma, atau S1, kebanyakan dalam bahasa Inggris, psikologi, bidang pendidikan, dan sosiologi, ada pula yang berasal dari disiplin engineer, science dan matematik. Kemudian melengkapi pengetahuan dalam bidang finance, perencanaan strategis, marketing, manajemen, komunikasi, menulis dan berbicara yang lancar.
c.       Nilai-nilai (values) Personal
Dari segi personal values agak sulit mebedakan keberhasilan seorang pengusaha yang gagal. Namun menurut Hisrich ada value yang bersifat umum yang dapat diamati sebagai karakteristik keberhasilan dalam berwirausaha yaitu:
1)        Keinginan menghasilkan superior produk,
2)        Layanan berkualitas terhadap konsumen,
3)        Fleksibel, serta kemampuan menyesuaikan diri terhadap perubahan pasar,
4)        Kemampuan dalam manajemen (high calibre management),
5)        Memiliki sopan santun dan etika dalam berbisnis.
d.      Usia
Satu hal yang perlu diingat ialah entrepreneurial experience is one of the best predictors of success. Oleh sebab itu kebanyakan wirausahawan berumur antara 22 sampai 55 tahun. Memulai usaha diluar usia ini tidak ada masalah, namun yang bersangkutan kurang dalam pengalaman, atau terlambat dalam melangkah.
e.      Riwayat Pekerjaan
Untuk memulai suatu usaha adakalanya seseorang memerlukan trigger, yang bersumber dari pekerjaan sebelumnya. Mungkin saja seseorang tidak puas dengan pekerjaan yang sekarang, tidak ada peluang untuk maju, tidak ada kemungkinan naik pangkat, atau konflik di tempat kerja, ini semua dapat memicu seseorang memulai rintisan usaha sendiri. Atau sebagai akibat rasionalisasi, perampingan perusahaan, kena PHK, ada pesangon yang dapat dijadikan modal. Banyak pula wirausahawan yang sudah bekerja sekian tahun, sudah memiliki skills dan pengetahuan seluk beluk usaha yang ia tekuni, dan selama ini bakatnya terpendam kurang tersalurkan, maka ia memutuskan minta berhenti dan membuka usaha sendiri. Kebanyakan mereka yang memiliki motif intrinsik begini lebih berhasil dalam merintis dan mengembangkan usaha.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar