Kamis, 31 Mei 2012

UMJ : Tugas Psikologi Pendidikan


Bahan Ajar 9
Kontribusi Psikologi
Pendidikan Terhadap Dunia Pendidikan
Sebagai Tugas Psikologi Pendidikan

A.   Kontribusi Psikologi Pendidikan Terhadap Pengembangan Kurikulum
Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa sudah sejak lama bidang psikologi pendidikan telah digunakan sebagai landasan dalam pengembangan teori dan praktik pendidikan dan telah memberikan kontribusi yang besar terhadap pendidikan, diantaranya terhadap pengembangan kurikulum, sistem pembelajaran dan sistem penilaian.
Kajian psikologi pendidikan dalam kaitannya dengan pengembangan kurikulum pendidikan terutama berkenaan dengan pemahaman aspek-aspek perilaku dalam konteks belajar mengajar. Terlepas dari berbagai aliran psikologi yang mewarnai pendidikan, pada intinya kajian psikologis ini memberikan perhatian terhadap bagaimana input, proses dan output pendidikan dapat berjalan dengan tidak mengabaikan aspek perilaku dan kepribadian peserta didik.
Secara psikologis, manusia merupakan individu yang unik. Dengan demikian, kajian psikologis dalam pengembangan kurikulum seyogyanya memperhatikan keunikan yang dimiliki oleh setiap individu, baik ditinjau dari segi tingkat kecerdasan, kemampuan, sikap, motivasi, perasaan serta karakteristik-karakteristik individu lainnya. Kurikulum pendidikan seyogyanya mampu menyediakan kesempatan kepada setiap individu untuk dapat berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya, baik dalam hal subject matter maupun metode penyampaiannya.
Secara khusus, dalam konteks pendidikan di Indonesia saat ini, kurikulum yang dikembangkan saat ini adalah kurikulum berbasis kompetensi, yang pada intinya menekankan pada upaya pengembangan pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Kebiasaan berfikir dan bertindak secara konsisten dan terus menerus memungkinkan seseorang menjadi kompeten, dalam arti memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar untuk melakukan sesuatu. Dengan demikian dalam pengembangan kurikulum berbasis kompetensi, kajian psikologis terutama berkenaan dengan aspek-aspek:
1.    Kemampuan siswa melakukan sesuatu dalam berbagai konteks;
2.    Pengalaman belajar siswa;
3.    Hasil belajar (learning outcomes), dan
4.    Standarisasi kemampuan siswa
B.   Kontribusi Psikologi Pendidikan Terhadap Sistem Pembelajara
Kajian psikologi pendidikan telah melahirkan berbagai teori yang mendasari sistem pembelajaran. Kita mengenal adanya sejumlah teori dalam pembelajaran, seperti: teori classical conditioning, connectionism, operant conditioning, gestalt, teori daya, teori kognitif dan teori-teori pembelajaran lainnya. Terlepas dari kontroversi yang menyertai kelemahan dari masing-masing teori tersebut, pada kenyataannya teori-teori tersebut telah memberikan sumbangan yang signifikan dalam proses pembelajaran.
Psikologi pendidikan telah melahirkan pula sejumlah prinsip-prinsip yang melandasi kegiatan pembelajaran Nasution (Daeng Sudirwo, 2002) mengetengahkan tiga belas prinsip dalam belajar, yakni:
1.      Agar seorang benar-benar belajar, ia harus mempunyai suatu tujuan.
2.      Tujuan itu harus timbul dari atau berhubungan dengan kebutuhan hidupnya dan bukan karena dipaksakan oleh orang lain.
3.      Orang itu harus bersedia mengalami bermacam-macam kesulitan dan berusaha dengan tekun untuk mencapai tujuan yang berharga baginya.
4.       Belajar itu harus terbukti dari perubahan kelakuannya.
5.      Selain tujuan pokok yang hendak dicapai, diperolehnya pula hasil sambilan.
6.      Belajar lebih berhasil dengan jalan berbuat atau melakukan.
7.      Seseorang belajar sebagai keseluruhan, tidak hanya aspek intelektual namun termasuk pula aspek emosional, sosial, etis dan sebagainya.
8.      Seseorang memerlukan bantuan dan bimbingan dari orang lain.
9.      Untuk belajar diperlukan insight. Apa yang dipelajari harus benar-benar dipahami. Belajar bukan sekedar menghafal fakta lepas secara verbalistis.
10.   Disamping mengejar tujuan belajar yang sebenarnya, seseorang sering mengejar tujuan-tujuan lain.
11.   Belajar lebih berhasil, apabila usaha itu memberi sukses yang menyenangkan.
12.   Ulangan dan latihan perlu akan tetapi harus didahului oleh pemahaman.
13.   Belajar hanya mungkin kalau ada kemauan dan hasrat untuk belajar.
C.   Kontribusi Psikologi Pendidikan Terhadap Sistem Penilaian
Penilaian pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam pendidikan guna memahami seberapa jauh tingkat keberhasilan pendidikan. Melalui kajian psikologis kita dapat memahami pengembangan perilaku apa saja yang diperoleh peserta didik setelah mengikuti kegiatan pendidikan atau pembelajaran tertentu.
Kajian psikologis telah memberikan sumbangan nyata dalam pengukuran potensi-potensi yang dimiliki oleh setiap peserta didik, terutama setelah dikembangkannya berbagai tes psikologis, baik untuk mengukur tingkat kecerdasan, bakat maupun kepribadian individu lainnya. Kita mengenal sejumlah tes psikologis yang saat ini masih banyak digunakan untuk mengukur potensi seorang individu, seperti Multiple Aptitude Test (MAT), Differential Aptitude Tes (DAT), EPPS dan alat ukur lainnya. Pemahaman kecerdasan, bakat, minat dan aspek kepribadian lainnya melalui pengukuran psikologis, memiliki arti penting bagi upaya pengembangan proses pendidikan individu yang bersangkutan sehingga pada gilirannya dapat dicapai perkembangan individu yang optimal. Oleh karena itu, betapa pentingnya penguasaan psikologi pendidikan bagi kalangan guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya
D.   Kontribusi Kelas Berpola Psikologi (Memahami Penyimpangan Dalam Kelas)
Dalam pandangan psikologi, untuk menjelaskan apakah seorang individu menunjukkan perilaku abnormal dapat dilihat dari tiga kriteria berikut:
1.      Kriteria Statistik
Seorang individu dikatakan berperilaku abnormal apabila menunjukkan karakteristik perilaku yang tidak lazim alias menyimpang secara signifikan dari rata-rata. Dilihat dalam kurve distribusi normal (kurve Bell), jika seorang individu yang menunjukkan karakteristik perilaku berada pada wilayah ekstrim kiri (-) maupun kanan (+), melampaui nilai dua simpangan baku, bisa digolongkan ke dalam perilaku abnormal.
2.      Kriteria Norma
Perilaku individu banyak ditentukan oleh norma-norma yang berlaku di masyarakat, ekspektasi kultural tentang benar-salah suatu tindakan, yang bersumber dari ajaran agama maupun kebiasaan-kebiasaan dalam masyarakat, misalkan dalam berpakaian, berbicara, bergaul, dan berbagai kehidupan lainnya. Apabila seorang individu kerapkali menunjukkan perilaku yang melanggar terhadap aturan tak tertulis ini bisa dianggap sebagai bentuk perilaku abnormal.
3.      Kriteria Patologis
Seorang individu dikatakan berperilaku abnormal apabila berdasarkan pertimbangan dan pemeriksaan psikologis dari ahli menunjukkan adanya kelainan atau gangguan mental (mental disorder), seperti: psikopat, psikotik, skizoprenia, psikoneurotik dan berbagai bentuk kelainan psikologis lainnya.
Kriteria yang pertama (statistik) dan kedua (norma) pada dasarnya bisa dideteksi oleh orang awam, tetapi kriteria yang ketiga (patologis) hanya bisa dilakukan oleh orang yang benar-benar memiliki keahlian di bidangnya, misalnya oleh psikolog atau psikiater.
Ketiga kriteria tersebut tidak selamanya berjalan paralel sehingga untuk menentukan apakah seseorang individu berperilaku abnormal atau tidak seringkali menjadi kontroversi. Misalkan, seorang yang melakukan sex bebas. Di Indonesia, perilaku sex bebas bisa dianggap sebagai bentuk perilaku abnormal, karena tidak sesuai dengan norma-norma dan nilai-nilai yang disepakati dan juga tidak dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, tetapi di Swedia dan beberapa negara Barat lainnya bisa dianggap sebagai bentuk perilaku normal, karena masyarakat di sana mengijinkannya (permisif) dan sebagian besar masyarakat di sana melakukan tindakan sex bebas. Sementara, menurut kriteria patologis pun mungkin saja tidak akan dianggap sebagai bentuk perilaku abnormal selama yang bersangkutan masih mampu menunjukkan orientasi dan objek sexual yang normal alias tidak mengalami psikosexual neurosis. Bagaimana dengan perilaku korupsi di Indonesia? Silahkan saja berikan komentar Anda!






































Minggu, 27 Mei 2012

UMJ - Dadan SM - Rumusan Kajian Pembahasan Psikologi Pendidikan



Dadan Saepul Milah NIM 2011517019
(Mahasiswa Smt 2 PAI Universitas Muhammadiyah
                               
Rumusan kajian pembahasan psikologi pendidikan berdasarkan pemikiran penulis, yang meliputi:
1.       Pengertian Psikologi Pendidikan
2.       Beberapa bahasan dalam psikologi pendidikan
3.       Pentingnya psikologi dalam pendidikan
4.       Fungsi psikologi dalam proses pembelajaran
5.       Skema hubungan faktor – faktor pendidikan
6.       Belajar sebagai sebuah sistem
7.       Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar

Pengertian Psikologi Pendidikan
                Psikologi pendidikan adalah psikologi yang diterapkan dalam dunia pendidikan umumnya, dan proses pembelajaran khususnya dalam rangka membantu memecahkan masalah-masalah belajar melalui penerangan prinsip-prinsip Psikologi, teori, teknik, dan prosedur ilmiah tertentu. (Euis Julaeha, 2000: 5)
Beberapa bahasan dalam psikologi pendidikan
1.    Psikologi pendidikan adalah bagian dari psikologi empiris (yang menyelidiki gejala-gejala kejiwaan dan tingkahlaku manusia dengan menggunakan observasi-percobaan-atau eksperimen).
2.    Penerapan psikologi dalam pendidikan (secara umum)
Agar pendidikan tahu aspek-aspek psikologi pada diri setiap individu
3.    Penerapan psikologi dalam proses pembekajaran (secara khusus)
Untuk menciptakan iklim yang kondusif yang memungkinkan seseorang untuk belajar
4.    Pembahasan sentral psikologi pendidikan adalah pemecahan masalah belajar
Pentingnya psikologi dalam pendidikan
1.    Bagi individu atau anak didik
Membantu individu atau anak didik dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi berkaitan dengan fungsi psikis.
2.    Bagi pendidik,  pengajar dan orang tua
Pengetahuan psikologi tentang anak didik dalam proses pendidikan sangat penting bagi mereka untuk mengoptimalkan kemampuan setiap anak didik atau untuk membantu pemecahan masalah individu dan masalah belajar.
3.       Bagi pengembangan ilmu
Penelitian, penyelidikan dalam bidang psokologi akan menambah luas khasanah ilmu pengetahuan psikologi maupun ilmu pendidikan karena adanya perubahan kebiasaan, sikap, dan nilai setiap orang sesuai dengan perkembangan IPTEK.
Fungsi psikologi dalam proses pembelajaran
1.    Sebagai pengetahuan praktis yang berusaha menjelaskan proses belajar sesuai dengan prinsip-prinsip psikologis yang ditetapkan secara ilmiah dan faktor-faktor tingkahlaku manusia.
2.    Sebagai pedoman dan pangkal arah bagi guru untuk membantu anak didik agar memperoleh pengalaman-pengalaman belajar sehingga ia dapat belajar secara optimal sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.
3.    Sebagai alat, teknik dan prosedur untuk melayani anak didik yang berbeda latar belakang, pola perkembangan dan kemampuannya (secara kognitif, afektif dan psikomotor).
Skema hubungan faktor-faktor pendidikan

 
Tidak pendidikan tanpa ada tujuan, tidak ada tujuan tanpa pendidik, tidak ada pendidik tanpa anak didik, dan seterusnya. 
1.    Tujuan
Faktor utama dalam pendidikan adalah untuk meningkatkan dan mencapai kedewasaan
2.    Pendidik
Tiap orang yang dengan sengaja mempengaruhi orang lain untuk mencapai tingkat kmanusiaan yang lebih tinggi
3.    Anak didik
a.    Anak yang belum dewasa
b.    Anak yang perlu mendapat bimbingan dari orang dewasa
c.     Anak yang tanggung jawab pendidik
Anak didik sebagai subyek pendidikan, bukan sebagai obyek karena anak didik dapat menerima atau menolak apa yang diterimanya.
4.  Alat didik
      Perbuatan atau situasi yang diadakan dengan sengaja untuk mencapai tujuan
Contoh: perhatian, hukuman, pujian, hadiah, dan nasehat.
1.    Alam sekitar
Segala sesuatu yang ada disekitar anak didik
Dapat berwujud = manusia                   contoh: keluarga, teman, dan lain-lain
Dapat berwujud = bukan manusia
                                 = kesenian                  contoh: wayang, sandiwara, derama
                                 = tempat                      contoh: tetangga, rumah, iklim
                                 = kesusasteraan       contoh: media masa
Belajar sebagai sebuah sistem

Gambar diatas menunjukan bahwa belajar sebagai suatu proses bermula dari masukan mentah (Raw input), yang kemudian harus diolah melalui proses belajar  – mengajar  (Teaching – learning proses). Proses ini dipengaruhi oleh faktor lingkungan sebagai masukan lingkungan ( Environmental input), juga dipengaruhi beberapa alat yang digunakan membantu proses belajar  - mengajar menjadi masukan alat-alat (Instrumental input) semuanya menunjang dan membantu tercapainya keluaran (Out put) yang dikehendaki.
 Faktor – faktor yang mempengaruhi belajar